Ahmad Tohari

Posted by admin On Rabu, 21 Maret 2012 0 komentar
Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.

Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).

Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.

Cerpennya yang berjudul "Jasa-jasa buat Sanwirya" pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.

Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurutnya di film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya. Ia pun ikut larut dalam emosi film ini meski endingnya tidak setragis versi novel.

Beberapa karyanya:
* Kubah (novel) (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006)
READ MORE

Deliar Noer

Posted by admin On Selasa, 20 Maret 2012 0 komentar
Deliar Noer (1926-2008) adalah serang ilmuwan politik, pemikir, peneliti dan penulis buku yang sangat produktif terutama mengenai Islam dan politik. Beberapa hasil karyanya yang terkenal antara lain;  Mohammad Hatta : Biografi Politik dan The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 yang merupakan disertasinya di Cornell University dan telah menjadi klasik. Menjelang usianya yang ke-70 ia menulis buku otobiografinya berjudul Aku Bagian Umat, Aku Bagian Bangsa setebal lebih dari 1000 halaman.

Pria Minang ini dilahirkan di Medan pada 9 Februari 1926. Setelah lulus dari sekolah menengah ia melanjutkan ke Universitas Nasional. Ketika menjadi mahasiswa ia aktif di HMI bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Umum. Setelah menyelesaikan sarjana muda ia melanjutkan ke Cornell University di Amerika. Disana ia menyelesaikan studinya dan menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor dalam Ilmu Politik.

Deliar Noer merupakan seorang ilmuwan yang konsisten dan jujur dalam mengemukakan pandangannya secara ilmiah. Akibatnya ia pernah dilarang mengajar di Universitas Sumatra Utara karena dituduh sebagai antek Amerika dan dekat dengan Bung Hatta yang waktu itu sudah berhenti sebagai wakil presiden dan dianggap berseberangan dengan Presiden Soekarno. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, setelah menjabat sebagai rektor IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) selama lebih dari 7 tahun iapun dipecat ketika hendak membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Juni 1974. Barangkali karena naskah pidatonya, yang berjudul “Partisipasi dalam Pembangunan” dinilai oleh pemerintah terlalu keras.

Ketika dilarang mengajar di seluruh Indonesia, Deliar menerima tawaran untuk menjadi peneliti di ANU (Australian National University), Canberra. Pada tahun berikutnya ia menjadi tenaga pengajar tamu di Griffith University di Brisbane dan setelah setahun menjadi pengajar tetap disana. Kemudian bersama ilmuwan muslim di Jakarta ia membentuk LIPPM (Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) bekerja sama dengan Griffith University.

Cendikiawan muslim ini bukan hanya seorang ilmuwan. Pada awal masa Orde Baru dia pernah menjadi staf penasihat Presiden Suharto. Namun karena berbeda paham dengan staf lain ia akhirnya mengundurkan diri. Bersama Moh. Hatta ia pernah berusaha mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII), tetapi tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Orde Baru. Setelah berakhirnya Orde Baru ia mendirikan Partai Umat Islam (PUI) tetapi pada Pemilu 1999 partainya tidak mendapat dukungan yang cukup.

Deliar Noer meninggal dunia pada 18 juni 2008 dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
READ MORE

Oto Iskandar Dinata

Posted by admin On Senin, 19 Maret 2012 0 komentar
R. Oto Iskandar Dinata merupakan salah satu pahlawan nasional asal Jawa Barat. Lahir di desa Bojongsoang, Dayeuhkolot, Bandung Kidul 31 Maret 1897. Ayahnya bernama R. Nataatmaja, yang berganti nama menjadi R.H. Adam Rakhmat setelah pulang dari ibadah haji dan ibunya bernama Siti Hadijah. Sedangkan diantara saudaranya bernama R. Ating Atma di Nata yang pernah menjadi Walikota Bandung (1945)  dan R. Pandu Prawira di Nata.

Sejak kecil Oto sudah terlihat sebagai orang yang cerdas, mandiri, pemberani, serta memiliki bakat sebagai pemimpin. Hobinya bermain sepakbola serta berminat pula terhadap seni. Dalam sepakbola, Oto tidak hanya pintar bermain bola, juga menjadi pemimpin di klub sepakbolanya. Di sekolahnya Oto juga selalu menjadi ketua kelas. Salah satu teman sekolahnya di HIK, R. Ema Bratakusuma, pernah bercerita bahwa jika tidak terpilih pemilihan ketua kelas atau ketua klub sepakbola, Oto selalu berusaha dengan berbagai cara hingga akhirnya terpilih menjadi ketua.

Oto menempuh pendidikan dasar di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Karang Pamulang Bandung, sekolah dasar yang berbahasa pengantar bahasa Belanda. Dari sana ia melanjutkan ke sekolah guru bagian pertama (HIK) di Bandung. Tamat dari sana Oto melanjutkan ke sekolah guru atas HKS (Hogere Kweekschool) di Purworejo, Jawa Tengah.

Setelah lulus dari HKS pada Juli 1920, Oto menjadi guru HIS di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah. Pada tahun berikutnya, Juni 1921 Oto dipindahkan ke Bandung dan mengajar di HIS Volksonderwijs (Perguruan Rakyat). Pada Agustus 1924 Oto dipindahkan lagi ke HIS Pekalongan, Jawa Tengah. Agustus 1928 dipindahkan ke Batavia (Jakarta) dan ditempatkan di HIS Muhammadiyah. Sejak tahun 1932, Oto berhenti menjadi guru, karena lebih tertarik dengan kegiatan sosial-politik.

Saat tinggal di Banjarnegara Oto bertemu dengan dua hal yang berpengaruh terhadap hidupnya. Pertama bertemu dengan Raden Ajeng Sukirah dan menikah dengannya pada tahun 1923. Oto kemudian memiliki 12 anak 7 perempuan dan 5 laki-laki, Kedua, bertemu dengan organisasi Budi Utomo dan masuk menjadi anggotanya. Ia tertarik dengan gagasan dan kegiatan organisasi tersebut yang memperhatikan dan membela nasib bangsa yang dijajah oleh bangsa lain.

Ketika pindah ke Bandung Oto melanjutkan aktifitasnya di Budi Utomo karena saat itu sudah ada cabangnya di Bandung.meski tidak terlalu aktif. Oto menghidupkan kembali Budi Utomo cabang Bandung, bahkan beliau terpilih menjadi wakil ketua. Ketika Budi Utomo cabang Bandung mengadakan rapat propaganda di gedung Concordia (sekarang gedung Merdeka ) pada 12-13 September 1921, dalam pidatonya Oto mengkritik serta membuka polemik dengan Paguyuban Pasundan (PP), organisasi orang Sunda yang didirikan di Batawi, 20 Juli 1913.

Tetapi setahun berikutnya, pada 1922 Oto mendekati PP dengan cara menulis surat yang dimuat di surat kabar Siliwangi (7 Nopémber 1922) yang isinya menyatakan bahwa beliau bermaksud untuk masuk Paguyuban Pasundan. Meski demikian niatnya tersebut baru terlaksana 7 tahun kemudian (1929), setelah ia tinggal di Jakarta. Barangkali karena kepindahannya ke Pekalongan yang menyebabkan niatnya itu sempat tertunda.

Di Pekalongan Oto meneruskan  kegiatananya di Budi Utomo. Beliau menjadi wakil ketua pengurus Cabang Pekalongan. Setelah itu bahkan terpilih menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Pekalongan mewakili Budi Utomo. Oto yang dikenal berani dalam membela rakyat membongkar kelicikan perkebunan gula Wonopringgo yang ingin mengusai tanah rakyat hingga rakyat selamat dari penipuan. Kasus tersebut yang disebut Bendungan Kemuning mengakibatkan konflik dengan residen di Pekalongan, hingga akhirnya ia dipindahkan ke Batavia (Jakarta).

Di Jakarta Oto mengajar di HIS Muhammadiyah dan dekat lagi dengan lingkungan sosial budaya Sunda serta Paguyuban Pasundan. Oto yang pernah berniat masuk Paguyuban Pasundan akhrnya bergabung dengan organisasi tersebut. Oto kemudian menjabat sebagai sekretaris di Pengurus Pusat (Hoofdbestuur) Paguyuban Pasundan. Kemudian dalam Kongres PP pada Desember 1929 di Bandung Oto terpilih menjadi ketua pengurus besar Paguyugan Pasundan.

Paguyuban Pasundan pada masa Oto tidak hanya dianggap sebagai organisasi lokal Sunda, tetapi gerakannya terasa di lingkungan nasional. PP aktif dalam Permupakatan Perhimpunan Politik Kemerdekaan Indonésia (PPPKI) serta  Gabungan Politik Indonésia (GAPI). Oto pun terpilih menjadi anggota Volksraad (parlemen) sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan. 

Dalam sidang-sidang Volksraad dikenal dengan ucapan-ucapannya yang tajam dan berani dalam mengecam dan mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Tak jarang Oto berdebat dengan pihak Belanda hingga mereka sering naik pitam. Karena keberaniannya itu Oto mendapat julukan "Si Jalak Harupat" yang bermakna seperti ayam jago yang tidak pernah kalah bila diadu. Nama julukannya "Si Jalak Harupat" sekarang digunakan sebagai nama stadion sepakbola di Kabupaten Bandung.

Menjelang Kemerdekaan RI Oto Iskandar di Nata ikut dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdékaan Indonésia (BPUPKI) dan  Panitia Persiapan Kemerdékaan Indonésia (PPKI). Oto juga yang mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, yang usulannya langsung disetujui oleh anggota sidang PPKI. Setelah kemerdekaan Oto diangkat menjadi Menteri Negara dalam bidang keamanan dalam kabinet pertama RI.

Oto Iskandar di Nata merupakan sosok pejuang yang pantang menyerah, berjiwa nasionalis, dan antipenjajah. Tetapi akhir hidupnya justru terbunuh oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai RI. Dalam menjalankan tugasnya diperkirakan menimbulkan ketidakpuasan pihak lain. Hingga akhirnya menjadi korban penculikan pada 10 Desember 1945 oleh para pemuda yang mengaku dari Laskar Hitam, dan dibunuh pada 20 Desember 1945 di daerah Mauk, Tangerang.

Sumber: Pa Oto oleh Edi S. Ekadjati di majalah Cupumanik dan sumber-sumber lainnya

READ MORE

Karel A Steenbrink

Posted by admin On Kamis, 15 Maret 2012 0 komentar
Karel A Steenbrink (lahir di Breda, Belanda pada 16 Januari 1942) adalah seorang Professor Emeritus Intercultural theology di Universitas Utrecht dan sudah banyak menulis buku tentang sejarah Islam di Indonesia. Meski demikian latar belakang pendidikannya bukan sejarah, tetapi teologi. Ia menyelesaikan studinya pada 1970 di fakultas teologi Universitas Katolik Nijmegen, Belanda, jurusan studi Agama Islam dari segi Perbandingan Agama. Karena merasa belum lengkap dengan hanya mencapai gelar Drs., dan tidak merasa cukup dengan hanya mempelajari bahan kuliah dari buku saja, ia mencoba untuk mendapat pengalaman lapangan. Maka ia kemudian pergi ke Indonesia dalam rangka melakukan penelitian.

Pada mulanya ia bermaksud meneliti tafsir al-Quran yang ditulis oleh orang Indonesia, seperti tafsir al-Azhar karya HAMKA, tafsir an-Nur karya Hasbi as-Shiddiqy, dan tafsir yang disusun oleh Zainal Arifin Abbas dkk. Namun kesulitan segera muncul. Menurutnya, di Indonesia belum dikembangkan studi yang mendalam tentang metodik tafsir modern. Bahkan tafsir Hasbi as-Shiddiqy sebagian besar merupakan terjemahan dari tafsir Arab, khususnya tafsir al-Maraghi. Ia mengalami kesulitan untuk melakukan pembuktian, apalagi tafsir al-Maraghi yang terbit di Mesir itu meliputi sekitar 9000 halaman. Disamping itu ia datang ke Indonesia untuk mencari pengalaman kehidupan Islam secara praktis, bukan untuk masuk perpustakaan saja. Oleh karena itu Ia mengganti tema penelitiannya dengan yang baru, yaitu tentang perkembangan kehidupan pesantren.

Untuk memulai penelitiannya, ia menjadi siswa dan peneliti di Pesantren Gontor, salah satu perguruan Islam yang sangat modern. Pesantren ini merupakan sekolah Islam yang tetap mengajarkan tradisi lama tetapi disaat yang sama mengikuti perkembangan modern. Steenbrink menyelesaikan studinya disana dan menulis disertasi mengenai sekolah tersebut.

Hasil penelitiannya berjudul Recente Ontwikkelingen in Indonesisch Islamonderricht. Terjemahan Indonesianya berjudul Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Disertasinya ini yang menjelaskan tentang proses perkembangan pendidikan Islam sejak awal abad ke-20.
Pada 1978-1979 di Universitas Leiden ia menjadi pemimpin proyek studi dan penelitian untuk sembilan dosen dari beberapa dosen IAIN di Indonesia. Antara 1981-1988 mengajar di IAIN Jakarta dan Yogyakarta dalam rangka kerjasama Indonesia dan Belanda. Ia mengajar “Perkembangan Teologi Kristen Modern” di fakultas Ushuluddin serta “Sejarah Islam di Indonesia” dan “Orientalisme” pada program Pasca Sarjana. Pada 1992-1993 diundang sebagai visiting Profesor di McGill University, Canada. Kemudian bekerja di IIMO, Interuniversitair Instituut voor Missiologie en Oecumenica. Lembaga penelitian di Universitas Utrecht, Belanda, untuk mengembangkan profil pemikiran ekumenis Kristen yang juga menyangkut hubungan yang harmonis dengan agama lain, khususnya dengan umat Islam. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi jurnal Begrip (saling pengertian), dan redaktur pelaksana jurnal Exchange, yang bertujuan meningkatkan hubungan antar agama, khususnya Islam dan Kristen.

Karel Steenbrink sudah banyak menulis banyak buku mengenai sejarah Islam di Indonesia. Diantara bukunya adalah: Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern; Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19; Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern, Kitab Suci atau Kertas Toilet: Nuruddin ar-Raniri dan Agama Kristen; Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat Vol. I: Penelitian Agama di Indonesia, Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belandan dan Islam di Indonesia (1596-1942).
READ MORE

Raden Dewi Sartika

Posted by admin On Senin, 12 Maret 2012 1 komentar
Raden Dewi Sartika adalah salah satu pahlawan wanita dalam bidang pendidikan. Namanya memang tidak sebesar RA Kartini dan tanggal kelahirannya tidak diperingati sebagaimana hari kelahiran Kartini. Tetapi peranannya dalam memajukan pendidikan kaum wanita pribumi tidak kecil. Karena itu pada tahun 1966 pemerintah mengangkat Dewi Sartika sebagai pahlawan nasional.

Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Beliau adalah putri kedua dari lima bersaudara dari kalangan bangsawan Sunda. Ayahnya bernama Raden Rangga Somanagara, Patih Bandung. Sedangkan Ibunya adalah Raden Ayu Rajapermas, putri Bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876).

Saat Dewi Sartika berusia sembilan tahun dan bersekolah di kelas III ELS (Europesche Lagere School), ayahnya dituduh terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dan para pejabat Belanda di Kota Bandung pada 1893. Tuduhan itu membuat ayahnya dibuang ke Ternate, disamping itu teman dan kerabatnya menjauhi keluarganya karena takut dituduh terlibat dalam peristiwa itu. Dewi pun berhenti sekolah dan dibawa pindah oleh uwaknya yang menjabat sebagai Patih Cicalengka. Di sana ia mendapat pendidikan keterampilan wanita bersama anak-anak lainnya. 

Sejak kecil Dewi sudah menunjukkan bakat sebagai pendidik. Di waktu senggangnya, ia sering bermain "sekolah-sekolahan" dengan anak-anak pegawai kepatihan sementara ia sendiri menjadi gurunya. Ia mengajar baca-tulis dan bahasa Belanda dengan menggunakan papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting yang dijadikannya alat bantu belajar. Dan ia pun kemudian bercita-cita mendirikan sekolah untuk memajukan  anak-anak gadis, baik anak menak maupun anak somah.

Keinginannya mendirikan  sekolah diwijudkannya ketika ia sudah kembali ke Bandung. Atas bantuan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dan didukung C. den Hamer, inspektur sekolah, ia membuka Sakola Isteri pada 16 Januari 1904. Pada 1910 kemudian diganti menjadi Sakola Kautamaan Isteri sedangkan pada 1914 diganti menjadi Sakola Raden Dewi. Di sekolah khusus wanita ini, murid-muridnya mendapat pelajaran keterampilan wanita selain pelajaran umum. Disini juga diajarkan pelajaran agama Islam, yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah bergaya Barat.

Sekolah ini makin berkembang dengan jumlah murid yang semakin banyak. Dibuka pula cabang-cabangnya di berbagai kota di Jawa Barat seperti Bogor, Serang, Ciamis, bahkan di Sumatra Barat. Maka pemerintah Hindia Belanda memberi tanda penghargaan bintang mas (gouden ster) sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Raden Dewi Sartika menikah pada 1906 dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang guru di Sekolah Karang Pamulang Bandung dalam usia 22 tahun. Pada zaman itu, perempuan lain di usia tersebut biasanya sudah memiliki beberapa anak.

Pada masa pendudukan Jepang, Raden Dewi dicurigai sebagai NICA hingga ia harus menyingkir ke Garut dan akhirnya ke Cineam. Di Cineam, Tasikmalaya, Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947 dengan meninggalkan enam orang anak.

READ MORE

Luo Guanzhong

Posted by admin On Minggu, 04 Maret 2012 0 komentar
Luo Guanzhong adalah nama salah satu penulis Cina yang hidup pada masa Dinasti Yuan (Mongol) dan awal Dinasti Ming. Luo Guanzhong dianggap sebagai penulis novel sejarah Romance of the Three Kingdom (Sam Kok, San Guo Yan Yi, atau Kisah Tiga Negara). Novel ini membuat zaman Sam Kok menjadi salah satu dinasti paling populer dalam sejarah Cina, serta menjadi dasar untuk banyak serial TV, film maupun video game.

Luo Guanzhong juga dihubungkan dengan novel Water Margin (Tepi Air), karena konon dia yang menjadi editor dari buku tersebut. Kedua novel tersebut sangat hingga sekarang dan merupakan dua dari empat novel klasik terbesar dalam literatur Cina. Tetapi ada pendapat bahwa Shi Naian, yang dianggap sebagai penulis Water Margin, sebenarnya adalah nama samaran Luo Guanzhong. Meski demikian para sejarawan sastra meragukan bahwa dua nama tersebut merupakan orang yang sama.

Tidak diketahui dengan pasti kapan ia lahir. Berdasarkan penelitian kemungkinan besar ia dilahirkan antara tahun 1315-1318 M. Banyak yang mengatakan ia berasal dari Taiyuan yang merupakan kota kelahirannya meski sejarawan lain menyebut beberapa tempat lain, termasuk Hangzhou dan Jiangnan.
READ MORE