Bagus Rangin

Posted by admin On Sabtu, 20 Desember 2014 0 komentar
Bagus Rangin merupakan tokoh pahlawan yang memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda dalam Perang Cirebon pada awal abad ke-19.

Bagus Rangin dilahirkan di Rajagaluh, Majalengka pada sekitar tahun 1761. Ayahnya adalah Kiai Sentayem, seorang ulama yang berilmu tinggi dan memiliki banyak murid, termasuk Bagus Rangin dan saudara-saudaranya. Maka sejak kecil Bagus Rangin dididik dalam lingkungan yang relijius. Bagus Rangin juga belajar ilmu umum serta ilmu beladiri. Selain kepada ayahnya, Bagus Rangin belajar agama - terutama dalam bidang tarekat - kepada seorang ulama Banten yang dijuluki Rama Banten.

Hasil dari pendidikan yang dia terima membuatnya dikenal sebagai orang yang soleh dan berani menegakkan kebenaran, serta tidak sungkan membantu orang yang membutuhkan pertolongannya. Namanya kemudian terkenal dan disegani masyarakat, hingga terdengar sampai ke pusat pemerintahan di Cirebon. Maka oleh Sultan Cirebon Bagus Rangin diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin daerah kabagusan Jatitujuh dengan pangkat Senapati.

Pada waktu itu kehidupan rakyat sangat susah karena dibebani berbagai kewajiban, seperti membayar berbagai macam pajak (pajak tanah, pajak hasil tani, dan lain-lain), menyerahkan upeti kepada pejabat, juga menjalani kerja paksa dan kerja desa. Apalagi setelah tanah-tanah di desa banyak yang disewakan kepada Belanda dan Cina. Bukan hanya lahan garapan yang disewakan, tetapi juga dengan rakyatnya. Rakyat diperas tenaganya untuk mengolah lahan disamping harus membayar pajak yang lumayan besar.

Kehidupan rakyat yang makin sengsara menimbulkan keinginan mereka untuk berontak. Maka dengan dipimpin oleh Bagus Rangin, rakyat Palimanan melakukan perlawanan terhadap Belanda serta kepala daerah yang menjadi antek Belanda. Pasukan Bagus Rangin berjumlah sekitar 300 orang yang dibantu oleh adiknya, Bagus Serit dari Jatitujuh. Dalam gerakan ini Bupati Palimanan Tumenggung Madenda, Asisten Residen Belanda, serta pembesar dan pasukannya, termasuk tuan tanah Cina, menjadi korban. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1805 (atau 1806?).

Gerakan Bagus Rangin didukung tokoh masyarakat dari beberapa daerah. Karena itu dalam perlawanan selanjutnya Bagus Rangin mendapat bantuan dari berbagai daerah lain baik berupa tenaga, senjata, maupun logistik.

Untuk memberantas gerakan pimpinan Bagus Rangin, Gubernur Jenderal Kompeni A.J. Wiese menugaskan Nicolaes Engelhard untuk memimpin pasukan kompeni menyerang markas Bagus Rangin di Jatitujuh. Pasukan Belanda dibantu oleh beberapa pasukan pribumi yang berasal dari Sumedang, Karawang, Subang, Cirebon, serta Madura. Pasukan Bagus Rangin sendiri mendapat bantuan dari beberapa daerah seperti Sumedang, Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan hingga berjumlah 40.000 orang. 

Beberapa kali pertempuran menimbulkan korban yang tidak sedikit, baik dari pihak Bagus Rangin maupun Belanda. Di pihak Bagus Rangin ada yang tertangkap, sebagian lagi mundur dan bersembunyi. Bagus Rangin sendiri bisa lolos dari kepungan musuh dengan sebagian anak buahnya. Akhirnya beliau nyepi di Pasir Luhur, sebuah gunung kecil yang sekarang menjadi batas antara Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap. 

Disana ia berpikiran bahwa sasaran perjuangan harus diubah, tidak hanya mendukung Raja Kanoman Pangeran Suriawijaya untuk menjadi Sultan, karena kedudukan sultan sangat tergantung kepada kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Raja Kanoman pernah dibuang ke Ambon oleh Belanda pada tahun 1802. Setelah dibebaskan dan dijadikan sultan di Cirebon pada tahun 1808, dua tahun kemudian dipecat oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels karena sikap dan tindakan Raja Kauman dianggap melawan pemerintah kolonial. Bagus Rangin beranggapan bahwa sebisa mungkin harus berdiri negara sendiri. Negara tersebut dinamai Pancatengah dengan pusatnya di Bantarjati, pinggir sungai Cimanuk, tidak jauh dari Jatitujuh. Ia meyakinkan bahwa dengan berdirinya negara sendiri tidak akan ada kerja paksa dan pungutan paksa. 

Pada 1810 pihak kolonial mengirim pasukan yang dibantu oleh pasukan dari beberapa kabupaten untuk menumpas Bagus Rangin di Bantarjati. Maka terjadi perang yang menyebabkan banyak pasukan tewas, terutama dari pihak Bagus Rangin. Bagus Rangin dan anak buahnya terdesak hingga terpaksa mundur menuju Desa Panongan. 

Pada tahun berikutnya wilayah nusantara berada dibawah kekuasaan Inggris, yang di wakili oleh Letnan Gubernur Jenderal T.S. Raffles. Bagus Rangin beranggapan bahwa pemerintahan Raffles pasti tidak akan berbeda dengan penjajah sebelumnya. Maka iapun tetap mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan perjuangannya.

Pada 16-29 Februari 1812 pecah lagi perang di Bantarjati. Karena jumlah pasukan dan senjata yang tidak seimbang, kekalahanpun berada di pihak Bagus Rangin. Mereka terdesak mundur sampai di daerah Panongan. Disanalah akhirnya Bagus Rangin tertangkap pada 27 Juni 1812. Beliau gugur setelah dijatuhi hukuman mati. Pasukan yang meneruskan perjuangannya muncul lagi pada tahun 1816 yang dipimpin oleh Bagus Jabin, keponakan Bagus Rangin.






READ MORE

Asep Sunandar Sunarya

Posted by admin On Selasa, 01 April 2014 0 komentar
Asep Sunandar Sunarya merupakan seorang dalang wayang golek yang dikenal sebagai pendobrak jagat wayang golek di Indonesia. Ia menciptakan si Cepot, tokoh wayang dengan muka merah menyala dengan satu gigi, yang rahang bawahnya bisa digerak-gerakkan jika berbicara. Selain si Cepot, karakter  wayang lainnya ia buat sedemikian rupa supaya bisa melakukan hal-hal yang unik, misalnya buta (raksasa) yang kepalanya bisa terbelah atau bisa menggendong wayang anak kecil. Kreatifitas dan inovasinya banyak dipuji sekaligus dikritik. Namun ia mampu membawa seni wayang golek dan juga tokoh si Cepot menjadi sangat populer.

Asep Sunandar lahir pada 3 September 1955 di Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Nama kecilnya Sukana, anak ketujuh dari tiga belas bersaudara, anak seorang dalang terkenal pada masa itu, Abah Sunarya. 

Minatnya terhadap wayang golek sudah tumbuh sejak kecil. Sejak remaja ia sudah berambisi menjadi dalang. Maka sejak tamat SMP ia mengikuti pendidikan dalang di RRI Bandung. Meski ayahnya seorang dalang legendaris di kampungnya, ia memilih belajar juga pada Cecep Supriadi di Karawang. 

Namanya semakin terkenal sejak menjadi juara dalang pinilih I Jawa Barat pada tahun 1978 dan 1982. Pada tahun 1985 ia meraih juara umum dalang tingkat Jawa Barat dan meraih Bokor Kencana.

Pengakuan terhadapnya tidak hanya datang dari Jawa Barat dan Indonesa, tetapi juga dari luar negeri. Ia pernah menjadi dosen luar biasa di Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis. Tempat padepokannya, Padepokan Giri harja, pada tahun 1987 diresmikan menjadi Pusat Belajar Seni Pedalangan oleh Menteri Penerangan pada waktu itu. 

Tidak seperti dalang-dalang sebelumnya, Asep Sunandar tidak hanya mendalang di tempat-tempat khusus, ia pun  mensosialisasikan wayang golek yang inovatif ke kampus-kampus, hotel, serta televisi. Usahanya membuahkan hasil, wayang golek menjadi lebih populer di berbagai tempat. Penampilannya sangat disukai baik oleh anak muda maupun orang tua sehingga popularitas Asep Sunandar makin naik. Ia pun tidak hanya diundang di dalam negeri, tetapi juga pernah melanglang buana ke berbagai negara.

Pada 31 Maret 2014, Asep Sunandar meninggal dunia di RS Al Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Beliau meninggal akibat serangan jantung yang dideritanya.  


Referensi: 
READ MORE

Mr. Sjafruddin Prawiranegara

Posted by admin On Jumat, 22 November 2013 0 komentar
Mr. Sjafruddin Prawiranegara lahir di Anyar, Banten pada 28 Februari 1911 dan meninggal di Jakarta pada 15 Februari 1989. Ia memiliki darah keturunan Sunda dan Minangkabau, karena buyutnya dari pihak ayah, Sutan Alam Intan, merupakan keturunan raja Pagaruyung di Sumatera Barat. Sutan Alam Intan ikut terlibat dalam Perang Padri hingga dibuang ke Banten dan menikah dengan putri bangsawan Banten

Sjafruddin menempuh pendidikan formal di ELS pada 1925, MULO di Madiun pada 1928, dan AMS di Bandung pada 1931. Pendidikan tingginya ia tempuh pada 1939 di Rechtshogeschool  di Jakarta (Sekolah Tinggi Hukum, sekarang menjadi Fakultas Hukum UI) dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.) atau sarjana dalam bidang hukum.

Saat menjadi mahasiswa Sjafruddin aktif dalam organisasi mahasiswa USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis) yang aktivitasnya dalam bidang rekreasi dan kegiatan yang menunjang studi tanpa ikut campur dalam politik.

Pada masa sebelum kemerdekaan Sjafruddin bekerja sebagai pegawai siaran radio swasta pada 1939-1940, petugas di Departemen Keuangan Belanda pada 1940-1942, dan Departemen Keuangan pada zaman penjajahan Jepang. Pada masa awal revolusi kemerdekaan Sjafruddin menjadi Kepala Kantor Inspeksi Pajak di Bandung. Disamping itu ia sempat menjadi Sekertaris Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Priangan. Perdana Menteri waktu itu, Sutan Sjahrir kemudian memintanya pindah ke Jakarta untuk menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). 

Sutan Sjahrir kemudian mengangkat Sjafruddin menjadi  Menteri Muda Keuangan dalam kabinetnya yang kedua dan Menteri Keuangan dalam kabinetnya yang ketiga. Saat Mohammad Hatta menjadi Perdana Menteri, Syafruddin menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Hatta yang pertama, kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta yang kedua tahun 1949. Dalam bidang politik, Sjafruddin bergabung dengan partai Islam Masyumi.

PDRI
Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda yang kedua pada Desember 1948, banyak pemimpin Indonesia yang ditangkap, seperti Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan yang lainnya. Namun Hatta sempat mengirim telegram kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara, yang saat itu berada di Bukittinggi, untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera.

Telegram itu tidak sampai ke Bukittinggi, tetapi berita tentang ibukota Negara yang sudah diduduki Belanda dan tertangkapnya para pimpinan negara sudah sampai melalui siaran radio. Sjafruddin kemudian menemui Teuku Muhammad Hassan dan berinisiatif untuk membentuk pemerintahan darurat untuk menyelamatkan Negara dari kekosongan pemerintahan. Maka terbentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dimana Sjafruddin menjabat sebagai ketuanya. Sjafruddin menyebut jabatannya sebagai “ketua” meski kedudukannya sama dengan presiden.

PDRI berjalan selama 207 hari sampai 13 Juli 1949 saat Sjafruddin menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno. Dengan adanya PDRI, yang melaksanakan politik diplomasi melalui radio, maka Belanda tidak bisa meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada. Belanda terpaksa melakukan perundingan dengan pihak Indonesia.

Setelah pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Soekarno, Sjafruddin diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri, kemudian menjadi Menteri Keuangan. Pada Maret 1950, Sjafruddin sebagai Menteri Keuangan melakukan kebijakan pemotongan uang merah de Javasche Bank pecahan Rp. 5 keatas yang digunting menjadi dua. Potongan uang sebelah kiri masih berlaku dengan nilai setengahnya, sedangkan potongan sebelah kanan dipinjamkan kepada Negara. Pecahan Rp 2,50 dan di bawahnya tidak digunting, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia) juga tidak digunting. Kebijakan yang banyak dikritik tersebut dikenal dengan nama “Gunting Sjafruddin”. Pada 1951 Sjafruddin diangkan menjadi Presiden Direktur De Javasche Bank yang kemudian berubah menjadi Bank Indonesia.

PRRI
Pada Februari 1958 Sjafruddin terlibat dalam gerakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berbasis di Sumatera Tengah dan menjadi Perdana Menteri. PRRI merupakan bentuk protes terhadap pemerintahan Soekarno yang dianggap menyeleweng dari UUDS 1950, bukan bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan Soekarno. Kemungkinan PRRI akan dibubarkan jika Presiden Soekarno membubarkan Kabinet Karya serta mengajak M Hatta dan Sultan Hamengkubuwono untuk membentuk kabinet yang mendapat kepercayaan dari dewan-dewan di daerah. 

PRRI kemudian dianggap Soekarno sebagai gerakan pemberontakan atau separatis. Akibatnya, Sjafruddin serta beberapa tokoh Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang terlibat ditangkap dan dianggap kontra revolusi. Kedua partai itu kemudian dibubarkan Soekarno. Pada awal tahun 1962 Sjafruddin dan yang lainnya dibawa ke Cipayung, Bogor. Mereka dibiarkan bebas bergerak tetapi dilarang meninggalkan kota itu tanpa izin.


Setelah keluar dari tahanan Orde Lama, Sjafruddin mengisi aktifitasnya dalam bidang dakwah. Tetapi ia tetap kritis terhadap pemerintah. Bersama tokoh-tokoh lain seperti M. Natsir, Ali Sadikin, AH Nasution, ia ikut menandatangani Petisi 50 sebagai protes terhadap pemerintahan Soeharto. Akibatnya ia selalu mendapat pengawasan dari intelijen Negara. Bahkan berkali-kali ia pernah dilarang naik mimbar untuk ceramah.

Sjafruddin meninggal pada tanggal 15 Februari 1989, 13 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-78. Ia dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Pada tahun 2011 pemerintah memberinya penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.



READ MORE

Imam Tirmizi

Posted by admin On Jumat, 15 November 2013 0 komentar
Imam Tirmizi biasa juga disebut dengan Imam Turmuzi atau Tarmizi. Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmizi.  Nama Tirmizi merujuk kepada tempat kelahirannya, kota Tirmiz, sebagaimana halnya Imam Bukhari yang merujuk kepada tempat lahirnya di Bukhara. Imam Tirmizi lahir pada tahun 129 H.

Sejak kecil Imam Tirmizi sudah gemar mempelajari ilmu hadits. Untuk mencari hadits ia mengembara ke berbagai negeri seperti Irak, Hijaz, Khurasan, dan lain-lain. Ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar untuk mendengar hadits yang kemudian dihafal serta dicatat dengan baik. Ia belajar diantaranya kepada Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud, bahkan belajar pula hadits dari sebagian guru mereka. Guru-gurunya yang lain adalah Qutaibah bin Said, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Sa’id bin Abdurrahman, Muhammad bin Basysyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, Muhammad al-Musanna, dan lain-lain.

Imam Tirmizi selain dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits, ia juga dikenal sebagai ahli ilmu fikih. Tetapi karyanya yang terkenal adalah buku kumpulan haditsnya yang dinamai Kitab Jami yang lebih dikenal dengan Sunan Tirmizi. Dalam kitabnya tersebut Imam Tirmizi tidak hanya meriayatkan hadits sahih, tetapi juga meriwayatkan hadits hasan dan dhaif. Dalam kitabnya ia tidak meriwayatkan, kecuali hadits-hadits yang dapat diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fikih.

Pada akhir kehidupannya Imam Tirmizi mengalami musibah hingga selama beberapa tahun mengalami kebutaan. Ia kemudian meninggal dunia pada 13 rajab tahun 279 H di Tirmiz dalam usia 70 tahun.

Beberapa karyanya:

1. Kitab al-Jami’, yang terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi
2. Kitab al-Ilal
3. Kitab at-Tarikh
4. Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah
5. Kitab az-Zuhd
6. Kitab al-Asma wal Kuna

READ MORE

HAMKA

Posted by admin On Jumat, 08 November 2013 0 komentar
Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih sering disebut dengan Buya Hamka adalah seorang ulama besar dalam sejarah Indonesia dan juga penulis produktif. Salah satu karyanya ditulis saat berada dalam penjara, yaitu tafsir al-Quran yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Beliau juga merupakan ulama sastrawan, karena banyak menghasilkan karya sastra. Diantaranya yang paling terkenal adalah novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Hamka lahir di daerah pinggiran danau Maninjau, Sumatra Barat. pada 17 Februari 1908. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah atau biasa dipanggil Haji Rasul, yang merupakan tokoh pembaharuan Islam di ranah Minang. Ia pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung. 

Pada saat berusia sekitar 10 tahun Hamka meninggalkan kampungnya, untuk belajar di perguruan Islam modern Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Disana ia mempelajari ilmu agama Islam dan mendalami bahasa Arab. Kemampuannya dalam berbahasa Arab menjadi modal  baginya untuk mendalami ilmu Islam dan sastra, dengan membaca secara luas literatur-literatur Arab.

Hamka dikenal sebagai petualang sehingga ayahnya menyebutnya “Si Bujang Jauh”. Pada tahun 1926, saat berusia 16 tahun Hamka merantau ke tanah jawa. Ia memang tidak betah tinggal bersama orang tuanya yang bercerai, yang membuat Hamka memiliki ayah tiri dan ibu tiri.

Di Jawa Hamka belajar dan berdekatan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam, seperti HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin (ayah KH AR Fakhruddin). Ia juga menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur yang waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Hamka berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan mulai berkiprah dalam organisasi tersebut. Hamka kembali ke rumah ayahnya di Padangpanjang pada Juli 1925.

Pada Februari 1927 Hamka yang saat itu tidak rukun dengan ayahnya berangkat ke Mekah secara diam-diam untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim disana. Sepulang dari Mekah, pada 5 April 1929 Hamka dinikahkan dengan Siti Raham. 

Sejak itu Hamka bersama ayahnya mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra. Hamka memangku berbagai jabatan hingga menjadi ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang. Pada 1931 Hamka diutus oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi mubaligh Muhammadiyah di Ujungpandang. Pada 1934 Hamka kembali ke Padangpanjang dan diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatra Tengah.

Pada tahun 1936 Hamka hijrah ke Medan dan meneruskan kiprahnya di Muhammadiyah Sumatra Timur. Di kota itu Hamka memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Hamka pun kembali menekuni ilmu sastra. Dua karyanya dalam bidang sastra, yaitu roman percintaan berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sangat laris terjual pada saat itu. Namanya kemudian melambung dan mendapat predikat sebagai Ulama Roman.

Pada 1949 Hamka pindah ke Jakarta. Di Jakarta Hamka bekerja di Kementrian Agama. Hamka pun menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 1955 Hamka menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu tahun 1955. Ia dicalonkan oleh Muhammadiyah untuk mewakili daerah pemilihan Masyumi, Jawa Tengah. Konsituante ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1959.

Hamka kemudian menerbitkan majalah tengah bulanan, Panji Masyarakat. Majalah ini sempat membuat Soekarno marah dan Panji Masyarakat akhirnya dibreidel pada 17 Agustus 1960 karena memuat tulisan mantan Wakil Presiden Muhammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Tulisan itu berisi kritik tajam terhadap Soekarno atas konsepsi Demokarsi Terpimpin. Majalah ini terbit kembali pada 1967.

Hamka menjadi musuh bagi pendukung Demokrasi Terpimpin. Banyak tuduhan dialamatkan kepada Hamka dan tokoh Masyumi lainnya, seperti kontra revolusioner hingga tuduhan merencanakan gerakan subversif. Karya Hamka banyak digugat sampai muncul tuduhan bahwa karyanya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan plagiat.

Pada Januari 1964 Hamka ditangkap dan dikirim ke rumah tahanan di Sukabumi. Selama lima belas hari Hamka mengalami  berbagai siksaan saat di introgasi siang dan malam. Setelah tiga bulan di Sukabumi, Hamka dipindahkan ke rumah tahanan di Cimacan, Puncak. Karena sakit, Hamka kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit sampai dibebaskan pada 1966. Selama di dalam tahanan inilah Hamka menyelesaikan Tafsir Al-Azhar, tafsir al-Quran yang merupakan kajian Hamka dalam kuliah subuh yang disampaikan di masjid Al-Azhar.

Pada masa awal Orde Baru Hamka cukup dekat dengan pemerintah. Hamka sering diminta ceramah di istana negara selain diberikan ruang untuk ceramah di RRI dan TVRI. Pada tahun 1975 pemerintah mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Hamka terpilih menjadi ketua. Tetapi Hamka menolak gaji dari jabatannya sebagai ketua MUI.

Pada April 1981 Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa larangan mengikuti acara perayaan natal bersama bagi orang Islam. Fatwa tersebut muncul karena pemerintah saat itu gencar berkampanye tentang kerukunan hidup beragama dan menganjurkan masyarakat untuk saling menghadiri acara keagamaan, hingga populerlah acara natal bersama. Tetapi fatwa itu mendapat kritikan dari Menteri Agama saat itu. Hamka yang menolak untuk mencabut fatwa itu memilih untuk meletakkan jabatannya sebagai ketua MUI pada 21 Mei 1981. 

Pada 24 Juli 1981 Hamka meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Hamka dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta dengan diantar ribuan masyarakat, termasuk Menteri Agama.


READ MORE

Abu Daud

Posted by admin On Senin, 14 Oktober 2013 0 komentar
Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr al-Azdi as-Sijistani. Beliau adalah seorang perawi hadits yang lahir pada tahun 202 H atau 817 M di Sijistan. Karyanya yang terkenal adalah as-Sunan atau Sunan Abu Daud.

Imam Abu Daud sudah belajar hadits sejak kecil. Ia melakukan perjalanan ke berbagai negeri seperti  Hijaz, Syam, Mesir, Irak, serta negeri-negeri lain untuk belajar hadits dari ulama yang dijumpainya. Para ulama yang menjadi gurunya banyak jumlahnya, diantaranya adalah Ahmad bin Hanbal, al-Qanabi, Abu Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja, Abul, Walid at-Tayalisi, dan lain-lain.

Dari perlawatannya ke berbagai negeri ia memperoleh pengetahuan yang luas tentang hadits. Ia kemudian menyeleksi ratusan ribu hadits yang ia peroleh untuk dicantumkan dalam kitab haditsnya, as-Sunan. Kitab as-Sunan yang ia susun berisi sekitar 4800 buah hadits.

Tidak seperti Imam Bukhari dan Muslim yang hanya memuat hadits shahih dalam karyanya, Abu Daud tidak saja mencantumkan hadits sahih. Ia memasukkan pula hadits yang tidak terlalu sahih atau mendekati sahih. Sedangkan hadits-hadits yang lemah, ia jelaskan kelemahannya.  

Kitab as-Sunan mendapat pujian dari para ulama. Diantaranya adalah gurunya, Ahmad bin Hanbal, yang memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik. Abu Daud berkali-kali mengunjungi Baghdad, dan dengan menggunakan kitab as-Sunan sebagai pegangan, ia mengajarkan hadits dan fiqh kepada penduduk.

Tidak hanya as-Sunan, Abu Daud pun menghasilkan banyak karya. Beberapa karya Abu Daud antara lain:

1. Kitab as-Sunan
2. Kitab al-Marasil
3. Kitab al-Qadar
4. An-Nasikh wal Mansukh
5. Fadailul Amal
6. Kitab az-Zuhd
7. Dalail an-Nubuwah
8. Ibtida al-Wahyu
9. Ahbar Khawarij

Abu Daud meninggal di Basrah, yang ia jadikan tempat tinggal atas permintaan gubernur setempat. Beliau wafat pada tanggal 16 Syawwal 275 H (889 M).


Dirangkum dari buku Kitab Hadits Sahih yang Enam karya Muhammad Muhammad Abu Syuhbah





READ MORE