Rohana Kudus

Posted by admin On Minggu, 12 Mei 2013 0 komentar

Rohana Kudus merupakan tokoh wanita dari Sumatra Barat yang menerbitkan surat kabar perempuan  Soenting Melajoe pada 1912. Iapun memperjuangkan pendidikan bagi perempuan di Minangkabau dengan membangun sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia dan Roehana School. Ia disebut sebagai tokoh yang berhasil menyuarakan perubahan bagi perempuan.

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884 dan meninggal pada 17 Agustus 1972 di Jakarta. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan sedangkan ibunya bernama Kiam. Nama Kudus sendiri diambil dari nama suaminya, Abdul Kudus. Rohana Kudus juga merupakan kakak tiri (saudara seayah) dari Sutan Sjahrir. Ayahnya menikah dengan ibu Sjahrir setelah ibunya meninggal. Rohana juga merupakan sepupu Haji Agus Salim, karena kakek Rohana dan Agus Salim saudara kandung . Beliau juga memiliki keponakanseorang  penyair terkenal yaitu Chairil Anwar.

Sejak kecil Rohana disapa dengan panggilan “One” oleh ayah dan adik-adiknya. Ia tidak bersekolah, karena umumnya perempuan Minangkabau waktu itu tidak dikirim ke sekolah formal. Meski demikian ia gemar belajar dengan membaca buku dan Koran. Sejak usia 8 tahun ia sudah mahir menulis dalam Bahasa Melayu, Arab, dan Arab Melayu dan kegiatannya tersebut terus berlanjut hingga dewasa. Dari seorang tetangganya yang merupakan seorang istri pejabat Belanda Rohana diajarkan keterampilan perempuan seperti menjahit, menyulam, merenda, merajut. Tak hanya itu, Rohana pun dikenalkan dengan berbagai majalah berbahasa Belanda.

Saat berumur 24 tahun Rohana menikah dengan Abdul Kudus, keponakan ayahnya. Dia seorang aktivis dan notaris yang sering menulis kritik terhadap pemerintah Belanda di koran-koran lokal. Suaminya adalah orang yang berpikiran maju. Dia sangat mendukung cita-cita Rohana untuk memajukan kaum perempuan Minangkabau. Waktu itu untuk memajukan kaum perempuan di Sumatra Barat bukan hal yang mudah.

Pada 1911 Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah keterampilan untuk perempuan agar bisa baca-tulis, menjahit, menyulam. Disana diajarkan pula pengetahuan umum dan pengetahuan agama.

Rohana melihat bahwa saat itu tidak ada koran khusus untuk perempuan di Minangkabau. Maka ia mengirim surat berisi permohonan kepada pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja. Rohana meminta Sutan agar bersedia mendanai berdirinya koran untuk perempuan di Minangkabau. Sutan Maharadja yang berpikiran maju terkesan dengan surat Rohana hingga ia menemui Rohana untuk membicarakan penerbitan pertama koran tersebut.

Surat kabar tersebut dinamai Soenting Melajoe yang ditujukan bagi perempuan Melayu. Sunting sendiri artinya perempuan.  Disini Rohana menjadi pemimpin  redaksinya dengan dibantu Ratna Djuwita yang merupakan anak dari Datuk Sutan Maharadja. Di surat kabar ini Rohana banyak menyoroti kehidupan perempuan. Ia juga menolak poligami karena akan merugikan perempuan dan keluarga.

Pada 1916 Rohana  ditimpa banyak cobaan, mulai dari tuduhan korupsi hingga tuduhan berselingkuh dengan pejabat Belanda. Akibat penggelapan uang ia nyaris dicopot dari jabatannya sebagai direktris di Sekolah Amai dan beberapa kali harus mengikuti persidangan. Meski tuduhan ini tidak terbukti, Rohana menolak untuk menempati kembali jabatannya di Sekolah Amai. Ia memilih pindah ke Bukittinggi dan mendirikan sekolah disana yang dinamai Roehana School. Kali ini Rohana juga mengajar murid laki-laki.

Hingga usia tua, Rohana sering berpindah tempat tinggal mengikuti anak tunggalnya, Djasma Juni. Ia pernah merantau ke Lubuk Pakam dan Medan dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Ketika kembali ke Padang ia menjadi redaktur Surat Kabar Radio yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu di Padang. Beliau juga menjadi redaktur surat kabar Cahaya Sumatera.

Dua tahun setelah ia meninggal, Rohana mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Sumatra Barat sebagai wartawati pertama. Sednagkan pada 1987 Dewan Pertimbangan Persatuan Wartawan Indonesia memberinya gelar penghargaan perintis pers.



0 komentar: